SELAMAT DATANG

Searching.....

Sabtu, 12 Juni 2010

JALAN PULANG


Apa yang anda pikirkan tentang mati ? apakah rasa sakit menjelang nyawa lepas? Apakah amal yang entah cukup entah tidak? Apakah surga ? apakah panasnya neraka? Apakah kesepian dan gelap di liang sempit ?
Diatas kumpulan kapuk itu ragaku terbaring. Seperti tak bergerak. Hanya diam. Menanggung resah dan keluh kesah. Mengungkung sakit yang tak tertahan, tapi tak bisa dimuntahkan. Manusia-manusia sehat mengelilingiku, ngeri. Menatap tubuhku yang tinggal tulang dibalut plastik coklat. Kerut dan keriput. Mata cekung dan menggembung, sesekali berputar mengitari para ‘tamu’.
Mereka berbisik-bisik.
‘Kasihan ya…’ perempuan berbaju coklat panjang itu berkata pada teman sebeblahnya yang duduk tepat didepanku. Dia mengangguk.
Aku tak tahu apakah harus merasa iba hati atau malah mebesar-besarkan hati.
Wajahku berkerut menahan sakit. Desah nafas yang sekali-sekali keluar diiringi tusukan jarum disekitar ulu hati. Ingin rasanya semuanya cepat berakhir. Dan sepertinya begitu.
***
Aku merasakan jiwaku telah mendekati jembatan panjang kematian. Seseorang telah menunggu dan melambai-lambaikan tangannya dari ujung jembatan itu. Angin seolah tak bertiup seperti biasanya, menghembuskan nafas-nafas Malaikat Izrail yang berbau neraka. Aku merasakan ajal telah dekat. Sedekat kelingking dan jari telunjuk. Hanya satu gerakan lagi, maka ditutuplah buku perjalanan hidupku.
Telah ku hitung-hitung tiap tarikan nafas yang berhasil ku lakukan. Janggal, tak perlahan, tak satu-satu. Jantungku juga sama. Kali ini selalu berdegup kencang, tak tentu sebab. Ketika aku tertidur sejenak kemudian terganggu, maka bangkitlah ia, ketidaknormalan jantungku yang cenderung menyesak, membuatku sulit bernafas. Jika ku sandarkan punggung ini ke dinding, maka terasalah olehku gempa yang sekonyong-konyong mengejutkan diriku sendiri. Aku rasakan nafasku telah hampir mendekati masa akhir kerja. Dan jantungku yang serasa ditusuk ribuan jarum. Suatu penyiksaan yang tak pernah ku harapkan. Belum lagi, kepalaku yang tak henti-hentinya mendenyutkan nada lelah. Seperti dihimpit oleh beban yang tak tertanggung, tapi kadang-kadang ada juga normalnya. Hanya kadang-kadang. Badan yang selalu tak berdaya, seolah orang pemalas. Tapi ini bukanlah disengaja, tak akan mungkin aku akan mengecewakan orang lain selagi aku mampu. Isi perutku seperti dikoyak-koyak dengan benda tajam, menghamburkan darah yang tak terlihat tapi terasa sangat pedih.
Lengkap sudahlah rasanya. Bau-bau darah kematian tercium anyir menyengat oleh hidungku. Gema langkah kuda sang pencabut nyawa tak jarang terdengar dari pendengaranku. Bahkan aku memimpikannya, memimpikan alam kekalku, yang gelap, sempit, lembab dan menyesakkan, dikelilingi hewan-hewan yang seolah siap menggerayangi jasadku lalu melumatnya bulat-bulat. Tidakkah ini lebih meyakinkanku akan itu ?
Huff… andai aku mati nanti. Aku tak akan menyesal. Akan kuhadapi ajalku dengan senyum manis. Akan aku sambut kedatangan tamu tak di undang itu dengan senyum terkembang. Aku yakin, dia akan menarik roh ku dengan tenang, diiringi semilir lembut bayu menghembuskan aroma surga. Dia akan membimbingku melafazkan Laailaaha Illallah. Aku yakin itu.
Andai aku telah lelap untuk selamanya, aku ingin tak seorang pun yang meratap menangisiku. Aku mohon tak seorangpun. Aku tak inginkan tangisan dari ibuku yang telah sabar memahami aku, anaknya yang telah banyak menimbunkan dosa dunia akhirat kepadanya. Dari keluargaku. Dari teman-teman, yang kutahu sangat menyayangiku. Ikhlaskan aku. Doakan aku damai di alam sana, di alam yang hanya aku sendiri yang akan tahu. Aku juga mencintai kalian, andai kalian tahu.
Kadang aku bersyukur, jika aku mati lebih cepat dari semua orang yang aku cintai. Rasanya aku tak akan sanggup menghadapi kenyataan bila mendapati mereka meninggalkan aku. Aku bukanlah orang yang sabar untuk urusan itu.
***
Hentakan kereta kuda rombongan utusan Tuhan semakin dekat dan menggema, membawa malaikat pencabut nyawa dan diiringi para iblis dengan obornya yang menyala-nyala dan berbagai rupa godaan untuk menjerumuskan aku dalam kesesatan kematian, mati secara su’ul khotimah. Sirenenya menyiarkan kabar yang menyiksa. Seluruh organ tubuhku merinding. Menggigil menanti kepastian meregang nyawa. Nadiku bergetar, membekukan darah yang kebetulan lewat. Jantungku tak karuan, menghentakkan irama genderang perang menyebu akhirat. Lidahku gagu. Telinga mendenging. Otakku teringat dosa lama yang telah karatan dalam diri. Dosa yang menjadi tabir penghalang cahaya dalam barzakhku nanti. Apa jawaban yang harus ku berikan untuk pertanyaan yang akan diajukan Para Penanya nanti. Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu ? Apa agamamu ? dan berbagai pertanyaan pertanggungjawaban lainnya. Bagaimana aku bisa mengatasi semua itu, sedang ketika aku masih sehat saja tak sempat menyediakan tameng untuk semua serangan itu. Bahkan, hanya bercak hitam yang terus bertambah pekat. Aku teringat shalatku yang tak cukup lima dalam sehari, puasaku yang tak pernah sempurna, zakatku yang dipenuhi riya’ dan amal baiklku ketika masih bertulang kuat. Aku teringat hidupku yang sia-sia. mengapa tak menggunakan jatah umur dengan baik ?
Kematian tak mau menunggu barang sedetikpun. Saat ini dia akan datang, aku dapat merasakannya melewati kaki yang perlahan beku dan kaku. Dingin sekali tapi tanpa sebab. Hujan lebat mengguyur rohku. Sangat dingin. Nafasku seolah berasap karena gigil yang tak tertahankan. Badanku kemudian tak dapat digerakkan. Aku telah melihat bayangan-bayangan aneh, hanya aku. Orang-orang berjubah hitam mengulurkan payung hitamnya padaku sambil berkata ‘ mari ikut dengan kami’. Lalu, semakin banyak saja yang datang, orang berbaju hijau, putih, merah, biru dan tak jelas lagi. Semuanya merayuku dengan kalimat yang sama. ‘Mari ikut dengan kami’. Aku bingung!. Aku lelah. Hatiku dipenuhi dengan kepanikan dan kebimbangan yang berjejal-jejalan memenuhi setiap sudut yang tersedia. Lambat-lambat dingin itu menggerogoti kerongkonganku hingga tak dapat bicara. Dalam gelombang warna yang saling berdesak-desakkan mendekatiku, seseorang yang sangat kenal muncul begitu saja diatas kepalaku, ibu!. Dengan wajah sayunya, dia menawarkan payudaranya kepadaku sambil berkata;
‘ kau haus kan anakku ? ini air susuku untukmu dan ikutlah denganku mati dalam kesesatan.’ Dia tertawa sambil terus saja menyodorkan payudaranya padaku.
Aku dikerubungi perasaan yang menyiksa. Susah payah meneriaki kata-kata. Tak kuasa menyampaikan sepotong makna. Tapi, yang keluar hanya desahan ngilu. Sepasang mata yang membelalak tak sanggup menerjemahkan sebait pesan yang coba ku sampaikan.
Lalu lepaslah ia diiringi kesakitan yang tak terkira. Tak seorangpun yang tahu, hanya aku yang merasakan betapa pedihnya itu semua. Dingin merayap perlahan dari ujung kaki. Terus merambat ke lutut, perut, dada dan kerongkongan. Berakhir sudah. Kembalilah ia keasalnya, ke tempat seharusnya, dimana dia telah diadakan dan menunggu hingga datangnya waktu untuk berbangkit.
Dunia gelap. Memang selalu ini dunia telah gelap bagiku, sejak awal adaku. Dari yang gelap kembali ke yang gelap. Tak pernah berubah.
***
»»  READMORE...

Senin, 07 Juni 2010

CEMBURU


mendadak kecemburuan itu berdentang bertalu-talu memukul-mukul gendang dalam relung hati yang terdalam. relung yang tlah lama menyemai benih tentang 'itu' dan kini ada yang telah lebih dulu merasakan, seperti itu. seperti yang kulukis dalam dunia maya imajiku. dan dia tepatnya mereka mendapatkan dan merasakan lebih....ah, aku tahu kecemburuan ini adalah awal langkah yang semula hanya angan.

seketika adrenalinku serasa dilecut, dikobar oleh sesuatu yang membara. berlari menyusuri liku-liku jalan yang telah kurancang sebelumnya. mengendapi setiap lorong. menembus hutan larangan guna menemukan secercah cahaya yang telah lama kusembunyikan. cahaya yang sangat terang, menurutku. dan, sekarang dikalahkan oleh mereka. ah, aku cemburu. sangat. kenapa mereka lebih dulu. dan naasnya, lebih baik.

kini, aku mulai membuat jalan baru. membuat dunia baru. merakit untaian kabel-kabel listrik agar memancarkan sinar yang lebih terang dari mereka. niatku masih sama dan juga sama dengan mereka tepatnya 'dia', memberi terang. tak ada salahnya kan aku cemburu. cemburu untuk kebaikan.

haha, adakah itu, iri untuk kebaikan?

tentu saja, seperti narkoba, bisa digunakan apabila untuk menyembuhkan orang sakit. lagipula, cemburu bukan barang haram.

tak ada gunanya, bermain kata. saatnya bekerja. jika ingin berguna, mulailah memberi warna pada dunia.
»»  READMORE...

YANG TERTINGGAL

Kamu harus mengerti bahwa tugasmu telah selesai, sejak lama. Setahun lalu atau bahkan lebih. Serahkan tongkat estafet ini kepada yang muda dan biarkan mereka bekerja. Jangan selalu merongrong mereka dari belakang. Biarkan mereka bekerja dengan tenang. Tanpa ada gangguan darimu. Kamu tahu, mereka merasa tak nyaman dengan sok keakrabanmu. Ingat itu. Hentikan tindakanmu yang tidak dewasa. Hentikan sikap yang menganggap bahwa kau masih perlu mengurus semuanya. Dan ku mohon hentikan sekarang juga. Kamu telah berjaya dahulu !!! Kamu tahu, aku benci kau begitu. Sangat benci. Kau seperti tidak sadar, akan pandangan sinis mereka untuk setiap tutur -yang kau anggap 'perhatian'- terlontar pada mereka. Sudahlah, aku kasihan padamu. sangat kasihan... Sebagai sesuatu yang selalu ada dalam dirimu, aku mohon sudahlah, masih ada banyak hal yang perlu kau lakukan. Yakinlah, semua telah tiba pada masa kau harus melupakan masa lalumu. Masa depan telah mengembangkan tangannya siap mendekapmu.

Apakah salah? aku hanya ingin balas jasa. Kau ingat, seperti apa aku dulu? apa aku seperti sekarang ini? aku yakin, kau tahu semua tentangku dan kau akan setuju bahwa ada yang berubah padaku. Dan itu bermula sejak aku disana. Kamu hanya tidak tahu, betapa mereka telah membesarkan aku. Kamu hanya tidak mengerti, bahwa karena merekalah aku seperti ini. Mungkin butuh waktu bagimu untuk mengerti. Akupun tak memaksamu untuk mengerti. Ingat itu. Apa kau juga akan menghalangiku untuk membalas semua kebaikan yang telah mereka berikan terhadapku. Dan perlu kau tahu, aku tidak peduli dengan tatapan sinis mereka. Niatku baik. Hanya berbagi.

Baik! telah berulang kali aku mengingatkanmu. Telah berulang mulut ini melontarkan hal yang sama. Jika kau tak ingin pahami, jika kau tak mau peduli, aku pun akan berhenti sampai disini. Lanjutkanlah bagimu kehidupanmu sendiri dan lepaskan aku. Biarkan aku mencari tempat yang lebih layak. Seseorang yang mau menerima kenyataan bahwa masa lalu telah berakhir. Dan setiap detik yang akan dilewati adalah masa depan. Tak ada masa lalu yang abadi. Semua hanya kenangan.

Pergilah. Akupun tak butuh kau. Dan ku tekankan, aku tak akan berhenti hingga aku yang ingin menyudahinya. Sungguh, kau tak kan pernah mengerti apapun. Yang kau tahu hanya logika. Kau tak akan memahami kehalusan perasaan manusia. Siapa kau?!

O…. Jadi kau anggap apa aku selama ini?! Aku yang selalu menemani sejak kau mampu membedakan warna hitam dan putih. Sejak saat kau mampu mengenal satu tambah satu sama dengan dua, bukan empat atau yang lainnya. Kau lupa, siapa yang mengingatkanmu saat kau khilaf. Siapa yang menyemangatimu saat kau jatuh dan terpuruk. Dan sekarang kau bertanya, siapa aku ? harus ku akui, kau masih anak-anak, bahkan lebih dari itu. Ternyata Tuhan salah mengirimku padamu. Untuk apa aku hidup bersama orang yang selalu terkurung dalam kerangkeng masa lalunya.

Hentikan ocehan yang tak berguna itu. Kalau mau pergi, berangkatlah sekarang juga.

Acuh. Beringas. Sinis. Semakin jengah. Berlagak tak peduli. Menjauh. Merenung. Dan pergi. Dan menangis.
Menyesal. Terisak. Membendung air mata. Meraung. Hujan dipelupuk mata. Ingin kembali. Ingin kembali. Malu. Malu. Kesepian. Kesepian.
***

Berat. Perpisahan ini terlalu cepat dan berat. Aku tak pernah membayangkan akan secepat ini. Aku tidak menyangka bahwa tiga tahun adalah waktu yang begitu singkat. Baru kemarin rasanya aku mendaftar sebagai siswa baru. Sekarang sudah tiba pula bagiku untuk berpisah. Semua merayakan kepergianku. Sedangkan aku masih ingin disini. Ada begitu banyak hal yang menggantung dan belum terselesaikan. Semua misi yang telah terjadwal masih tersisa beberapa. Haruskah berakhir sekarang. Aku tak ingin. Aku belum sanggup. Aku belum sanggup meninggalkan kenangan yang telah tercipta. Aku belum mampu melangkah dan menjauh dari sarang yang selama ini menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Belum untuk ini. Teman-temanku, para malaikatku, tak ada ungkapan yang lebih baik dari ini. Dan guru-guruku, yang tanpa lelah mengandung dan melahirkanku seperti ini. Dan organisasiku, yang mengajarkan aku akan siapa diriku. Dan misiku, semangat yang terkumpul dalam relung ini untuk membangkit semuanya. Dan sekolahku, dunia kecilku yang tak kalah dengan bumi. Maaf, aku belum siap untuk ini. Izinkan aku tinggal disini untuk satu atau dua tahun lagi. Aku janji tidak akan nakal. Aku tidak akan merepotkan kalian. Sudikah kalian menerimaku kembali ?

Apa daya. Waktu telah bersabda, meski tak ingin, segalanya harus berakhir disini. Perhelatan ini menghantarkan kami –tunas-tunas yang tumbuh di musim hujan- sampai penghujung jalan. Sepatah kata dari guru tersayang membawa kami –benih yang disemai dengan kasih sayang, meski kadang berbalas garang- menginjak pusat bumi. Terbenam dalam pesawangan beku, bagiku. Jabat perpisahan. Pelukan terakhir persaudaraan. Senyum manis persahabatan. Dan terakhir, suasana kelas nan ramai. Sukanya. Dukanya. Tertawanya. Pertengkarannya. Segalanya harus berakhir dan tak akan pernah terulang kembali. Persis seperti ini dan yang telah lalu selama tiga tahun ini.

Salahkah jika aku menangisi ini ? adakah seseorang yang menganggap ini sikap yang kekanak-kanakan? Terlalu bodohkah untuk seorang anak yang telah merayakan tujuh belasannya? biarlah. Ini luapan perasaanku. Tak ada yang mengetahui secara pasti bagaimana perasaan orang lain. Inilah bentuk kesedihan mendalamku yang berwujud.

Aku terduduk di bangku plastik berwarna biru. Dibawah lindungan tenda seputih awan. Kakiku berat untuk bergerak. Badan ini lelah, bukan hanya karena sibuk mengurus acara sampai sore ini, tapi ada sesuatu dalam hati yang membenam bagai batu. Berat. Lelah. Dihadapanku, manusia-manusia berbaju seragam lalu lalang, tertawa, berjabat tangan, berpelukan dan membuat kenangan. Alunan musik merdu, syahdu dan membuatku randu, mengalun lemah gemulai. Denting-denting perpisahan mengalir perlahan. Aroma akhir pertemuan tercium pekat. Langit gelap dan angin bersiul lambat.

Dan aku menangis. Aku benar-benar menangis. Untuk pertama kalinya, aku mengenal air mata. Aku malu, tentu saja. Terlalu menarik perhatian hingga beberapa dari teman-teman yang berseragam mendekat mendatangiku, mengusap punggungku, menenangkanku. Untunglah mereka mengerti. Tak menertawakanku. Keadaan ini membuatku kisruh, luluh. Aku ingin berteriak, hentikan perpisahan ini!!! Tapi tidak bisa. Sesak. Bulir bening itu tak henti mengalir di wajahku yang memerah. Lagi-lagi menarik perhatian. Kali ini para guru tersayang. Mereka merangkulku, memberiku sapu tangan penghapus air mata, mereka bawakan segelas air untuk mengurangi kegundahanku. Kau tahu, rasa sayang itu tak akan terbalas. Mereka menenangkanku, sementara perhatian itu membuatku semakin ingin meraung dan berteriak.

Akhirnya senja menutup semuanya. Tak ada lagi nyanyian sendu. Tak ada lagi wajah pilu. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi jabat tangan dan pelukan. Benar-benar berakhir. Yang tersisa hanya aku yang terpuruk dalam genangan kesedihan.
***

Buat guru-guru tersayang…

Apa kalian masih ingat bagaimana awal keberadaanku di sekolah ini ? aku kerdil, dekil, suka mencukil yang tak ternukil. Berhari, berminggu dan membilang bulan semua tetap sama. Lalu tahun pertama berlalu. Tingkahku masih seperti itu. Meski begitu, kalian selalu mengajarku dengan tulus seperti janji kalian kepada sang waktu. Kalian terus saja membimbingku ke jalan yang semestinya. Kalian ajak aku berkeliling rimba untuk menyadarkan akan keangkuhanku. Lalu, kalian terbangkan aku ke angkasa. Aku tahu, kalian ingin aku mencapai bintang. Bintang yang lebih tinggi dan lebih terang dari apa yang telah kalian capai.

Buat guru-guruku tersayang…

Terima kasih untuk setiap tetes ilmu yang telah kau tuangkan dalam cawan kehidupanku. Terima kasih untuk setiap kasih sayang yang kalian curahkan untukku. Dan terima kasih untuk semua benih kebaikan, aku yakin akan tumbuh subur kelak, untuk segala doa yang kalian tumpangkan dalam shalat malammu. Terima kasih. Terima kasih.

Aku sadar, aku salah. Dan aku berjanji aku akan berubah. Aku akan membuat kalian bangga dan tersenyum sumringah.

Mohon maaf atas segala kenakalan yang kulakukan. Mohon maaf atas segala kegaduhan yang kuciptakan. Maklumi semuanya. Semoga kalian mendapatkan tempat yang layak di masa depan. Aku percaya, Allah menghitung lipat ganda niat tulus kalian.
***

Teruntuk malaikat-malaikatku, sahabat-sahabat yang setia bersama dalam tiga masa…

Teman, kalian selalu membuatku tertawa jika kembali mengenang awal kita bersua. Wajah malu, kaku, dan tanpa rona. Diam. Hening. Dan hanya sesekali bersuara. Lalu waktu mengajak kita bercanda. Musim mengenalkan kita akan arti bersama, dalam tawa dan duka. Dari sanalah bermula cerita indah meski kadang berbumbu cuka.

Apa kau masih ingat, teman, tentang guru-guru praktek lapangan yang kita tertawakan bersama ??? hahaha… tentang guru yang mengusir kita karena telat masuk setelah jam istirahat. Kemudian, bagaimana dengan kenangan kita sewaktu mendekap sore dihalaman sekolah, ditemani wangi angin dari tebing, hijau pepohohan. Berlari bersama, dan tertawa bersama, tak lupa makan mie traktiran bersama…hahaha…

Teman, aku ingin menangis ? Apa kalian juga?

Perpisahan setahun lalu menjauhkan kita. Tapi tidak dalam hatiku, kalian akan tetap ada. Tak kan terlupa. Apa kalian juga begitu ?

Kapan kita akan seperti dulu lagi ? apa ikatan ini akan terjaga selamanya ? aku takut, kalian akan melupakan aku.

Terima kasih untuk senyumnya, jabat tangannya, rangkulan dan pelukan hangatnya…
»»  READMORE...

PENYAMARAN MALAIKAT

Kota padang seperti tanpa selubung atmosfir. Cahaya matahari seolah langsung menerpa wajah bumi, yang sudah keriput dan terkelupas. Panas di siang terik di pertengahan musim kemarau. Daun-daun hijau yang menguning dan berubah coklat tertatih-tatih dan terjatuh di pelataran panas. Orang-orang –entah menghiraukan panas atau tidak- terus saja menembus gelanggang padang. Asap-asap kendaraan bercampur debu yang dihalau angin, menambah gerah tak tertahankan. Jalan-jalan beraspal menguapkan nyeri yang bersembunyi di telapak kaki. Dan hamparan negeri, dari detik sekarang ke detik berikutnya bertambah panas. Ulah kita jua, maka kita pulalah yang berhak merasakan ‘kenikmatan’ ini. Kenikmatan yang menyembul dari dalam perut bumi dan menghantam dari angkasa.
Peluh keringat bergerombolan menyesak keluar dari pori. Hampir seluruh tubuhku dipenuhi oleh hasil oksidasi biologis itu. Baju kemeja biru yang kukenakan, lembab dan menggambarkan pesona basah disana-disini. Panas bukan main. Dan aku harus menempuh jalanan beraspal tandus pohon pelindung, berjalan kaki menuju rumah kos. Jaraknya kira-kira tiga ratus meter dari kampus, tempatku mengais ilmu. Malangnya, aku bukanlah anak golongan ningrat hingga harus menyetop mikrolet dan membuang uang hanya untuk kenyamanan sesaat. Dengan lelah dan panas yang mendekap, langkah kaki ku seret jua.
Dari pintu gerbang, ku usahakan berjalan cepat-cepat. Tas beralih fungsi menjadi pelindung kepala. Benar-benar panas yang luar biasa, menusuk tajam seperti jarum runcing ke balik tengkorakku. Lalu lintas yang padat menghambat langkah ketika ingin menyeberang jalan. Dan akhirnya butuh waktu sepuluh menit untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan ini. Biasanya hanya memakan waktu lima sampai enam menit. Tapi syukurlah, sekurang-kurangnya kamar yang hanya berukuran tiga kali empat meter ini dapat melindungiku dengan atapnya.
Pukul 12.45 WIB. Masih ada empat puluh lima menit lagi untuk tiba di stasiun kereta, dan kira-kira tiga jam berikutnya, keluarga telah dapat melihat kepulanganku. Siang ini adalah hari terakhir perkuliahan, tepatnya hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester. Besok dan dua bulan berikutnya adalah masa-masa tenang setelah lima bulan lebih bergelut dengan segala tetek bengek tugas kuliah, tugas-tugas yang tak henti meluncur dari mulut dosen seperti mortir yang tak pernah lelah menghamburkan pelurunya. Tingkah polah mereka yang beragam juga tak jarang menjadi obat paling ampuh untuk menguruskan badan. Dan tanpa ku sadari, aku sendiri telah mengkonsumsinya. Setiap semesternya, kekurusanku semakin nyata terlihat. Semester lalu mereka mengambil empat kilo persediaan berat badanku dan sekarang mungkin lebih.
Aku tercenung sejenak membayangkan kamar kesayangan, tempatku beradu kesendirian dengan para cecak setiap malam, harus ku tinggalkan untuk waktu yang tak sebentar. Seperti di film-film, bayang-bayang kenangan selama beberapa bulan terakhir seolah tergambar di tiap sudut kamar. Rasa tak ingin pulang tiba-tiba menyeruak, berat meninggalkan kasur gabusku, rak-rak bukuku, dan canda disini. Meski hanya untuk beberapa puluh hari, tapi akan ada sesuatu yang hilang.
Tak lama, baju-baju kotor dan perlengkapan lain –yang sengaja tidak dicuci beberapa hari ini dan berencana dibawa pulang- segera ku kemasi, ku lipat baik-baik, dan kususun rapi didalam tas. Buku-buku yang berserakan di tempat tidur, ku letakkan kembali ke tempatnya. Ku pisahkan, mana yang buku pelajaran dan mana yang buku sampingan. Kamar mandi adalah tempat berikutnya yang akan dikunjungi setelah membereskan ‘kekacauan’ itu. Tak butuh waktu lama untuk membersihkan badan dan berpakaian kembali. Handuk yang masih lembab, juga ku gabungkan dengan teman-temannya.
Tinggal dua puluh menit lagi. Aku telah menyelesaikan semuanya. Tas yang berisi barang bawaan, segera kusandangkan ke punggung. Berat. Kemudian, sepatu kotor yang ku bungkus dengan plastik toko, ku jinjing dengan tangan kanan. Persiapan selesai. Sebelum benar-benar mengunci pintu, masih sempat ke kitari seluruh sudut kamar dengan mata lelahku. Dan akhirnya, segala kenangan akan terkurung hingga aku datang dan membukanya kembali.
Ku langkahkan kaki ke kamar sebelah. Sekedar untuk menyampaikan salam perpisahan kepada penghuni kos yang lain.
“ Pulang dulu, Bang”
“ Eh…mau pulang sekarang juga Ri ?” Lelaki yang ku panggil Abang itu menoleh kaget. Mengalihkan pandangan kepadaku dan sesaat meninggalkan kesibukkannya. Dia tak pulang hari ini, karena masih ada urusan besok pagi dengan teman-temannya. Aktivis.
“ Iya Bang. Sudah rindu berat dengan orang di kampung. Maklumlah bang, sudah satu semester ndak pulang”
“ Rindu apa kangen ?” Ujarnya mencandaiku. Aku hanya tersenyum tak menanggapi.
“ Kalau begitu, duluan Bang. Oh ya, titip salam untuk Bang Ir dan Rudi. Assalamu’alaikum” Ucapku mengakhiri. Keduanya kebetulan sedang mengurus tugas di kampus.
“ Ok. Hati-hati ya…jadi juga sama kereta api?”
Hanya ku balas dengan anggukan dan seulas senyum. Kemudian berlalu ditemani bayangan akan kampung halaman.
***
Sekali lagi aku harus berhadapan dengan cuaca yang tak bersahabat itu. Tubuhku yang baru saja dibersihkan kembali diwarnai bercak keringat. Jarak ke stasiun kereta api adalah satu kilo lebih. Tak mungkin jika harus berjalan kaki. Tiga menit menunggu di trotoar sebuah angkutan kota berhenti tepat di depanku. Sopirnya menawarkan jasa. Tanpa basa-basi lagi, segera ku naiki. Segera ku henyakkan pinggul di kursi belakang karena hanya itu satu-satunya posisi yang tersisa. Selebihnya telah diisi oleh penumpang lain. Pengap menguap dari dalam mobil. Bau-bauan berbaur menghadirkan aroma tak sedap. Ditambah lagi, asap rokok dari bapak paruh baya yang duduk di sebelahku, membuatku mual. Tepat didepanku, seorang ibu menyemai senyuman padaku. Sedangkan aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Tak terlalu peduli.
Kendaraan berwarna putih bergaris-garis hijau muda itu perlahan melaju. Udara yang masuk agak membantu menghilangkan sesak yang memenuhi isi mobil. Aku duduk bersandar, memeriksa barang-barang kecil yang ada dalam tas. Kunci kamar, flash disk, dan catatan harian ada. Novel yang ku beli kemarin tertidur lelap diantara baju-baju kumuh. Tak ada yang ketinggalan.
“Habis pulang kerja ya Pak ?” Sebuah pertanyaan menghentikan aktifitasku. Spontan, menoleh kepada si pembicara. Ternyata suara itu berasal dari ibu yang mengumbar senyum tadi. Senyumnya kini semakin jelas terurai diwarnai sederet giginya yang tak putih. Diimbangi pula dengan balutan pakaian yang dikenakan, tak bisa dikatakan bersih dan mendekati kumal bercorak noda disana-sini. Sehelai jilbab sorong berwarna merah tua yang melingkari wajahnya, hanya ala kadarnya, tak tertata dengan rapi. Jelas-jelas dia bukan seperti orang kebanyakan. Dia lebih seperti seorang perempuan yang mengais rezeki dengan meminta-minta pada para dermawan. Dugaan itu semakin diperkuat dengan sebuah ember kecil berwarna biru yang berada di tangan kirinya. Aku merasa agak aneh, menyaksikan semua itu. Tidak biasanya, ada orang yang tidak saling kenal bisa menegur sapa.
“ Tidak bu, saya masih kuliah ” Aku menjawab seadanya. Tak lupa, kuhadiahkan segaris senyum yang dibuat seindah mungkin. Ku munculkan mimik seramah yang ku bisa.
“ Oh, ibu kira sudah bekerja. Abis pakaiannya seperti orang yang baru pulang dari kantor” Nadanya riang mendekati merayu. Senyumnya masih merona. Pandangan matanya teduh menatapku. Pandangan yang menyimpan sejuta kenangan pahit dan mendalam. Mata yang sarat makna kegelisahan, kesedihan dan kerja keras. Namun dia berusaha berbicara dengan tenang, layaknya tak pernah terjadi apa-apa dengannya selama ini.
Kuteliti kembali busana yang kukenakan. Benarkah seperti orang sehabis bekerja. Tidak juga. Paduan kemeja biru berlengan pendek dan celana panjang hitam, tidak mutlak menandakan bahwa seseorang baru pulang bekerja. Tidak ada dasi. Tak ada yang istimewa. Apalagi untuk seukuran ‘bekerja’ yang dia maksudkan. Lagipula, aku memakai sandal jepit, tidakkah dia melihat ? Aku ulang menatapnya, dan berusaha mencari jawaban yang tepat untuk mengimbangi alasannya tadi. Tapi tak ada celah untuk menjawab. Dia kembali bertanya;
“ Kuliah dimana Nak ? Semester berapa ?” Kata sapaannya berubah. Tak disangka dia akan terus menyerbuku dengan pertanyaan seperti itu. Ini adalah pertemuan pertama antara aku dan dia, tak mungkin akan menghadirkan suasana akrab yang dia inginkan. Bagiku ini suatu hal yang tak biasa. Sedangkan dia tampak tak peduli dengan keterasinganku.
“ Baru semester dua di UNP” Jawabku yang dibarengi sahutan ‘oo’ dari lawan bicara. Ku harap itu akan jadi pertanyaan terakhir. Aku lebih suka mencatat puluhan halaman tugas yang diberikan dosen daripada harus ‘dipreteli’ dengan pertanyaan-pertanyaan itu, dari orang yang tak ku kenal.
Tapi tidak, satu kalimat lagi meluncur dari mulutnya
“Rajin-rajin saja kuliah, nanti kalau sudah tamat supaya bisa bekerja dan hidup enak. Ngomong-ngomong sudah punya pacar belum nih ?”
Hah!. Pertanyaan apa itu. Disatu sisi, aku dapat menerima nasehat darinya. Namun, pertanyaan terakhir itu membuatku tersedak. Apa perlunya bertanya hal-hal semacam itu. Siapa dia, hingga berani-beraninya bertanya hal yang sangat pribadi itu, pada seseorang yang baru sekali bertemu diatas mikrolet. Aku menjadi jengkel juga. Namun lidah ini masih dipaksakan memberikan jawaban yang ku harap tak menimbulkan komunikasi lebih jauh lagi.
“Belum Buk…”
“Ah yang benar ? Masa’ orang seganteng anak ini belum punya pacar ? Biasanya orang-orang kuliah sebesar anak ini sudah punya pacar ” Kembali dia memborbardirku. Hiroshima dan Nagashaki meletus di lubang telingaku. Gendangnya pecah. Petir bermain-main diatas kepalaku. Sedang hatiku, kesal bukan kepalang. Setitik kata ‘ganteng’ yang mengobati sedikit kekesalan. Bercampur aduk. Jengkel, tapi tak kuasa marah. Buat apa dia ingin tahu masalah pribadiku. Terserah orang mau punya pacar atau tidak. Pentingkah buat dia. Perlukah bagi orang yang baru pertama kali ku temui. Jangankan mengenalku, namaku saja dia tak tahu. Ada-ada saja.
“Iya belum. Saya ingin konsentrasi kuliah dulu dan belum memikirkan tentang itu” Ku jawab dengan penekanan keras pada satu kata terakhir. Lalu, karena kejengkelan yang telah sampai pada ambang batas, ku alihkan pendangan ke luar. Tak menatap dia lagi. Untuk apa meladeninya? toh, dia akan memberikan pertanyaan aneh dan lebih aneh lagi dan lagi. Terus begitu sampai menyulut kemarahanku. Rumah-rumah berlari dalam ketertinggalannya.
Sesekali, mikrolet berhenti di simpang atau di tepi jalan menurunkan penumpang. Yang sudah turun, hampir separuh. Aku bisa sedikit mengambil nafas. Ku geser posisiku agak ke depan. Mobil terus mengukur jalan, hingga sesaat nanti juga akan berhenti kembali.
Suasana luar tak lebih panas dengan hatiku saat ini. Terbakar. Bosan dengan pemandangan luar, ku paksa pikiran agar tak mengalihkan pandangan ke si ibu rewel itu. Ku sibukkan diri dengan membuka-buka tas seolah mencari-cari sesuatu. Padahal tak ada yang perlu ku cari. Setelah lama, aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku.
“Ambillah…anggap ini rezeki dari Tuhan” Si ibu menitipkan sesuatu di telapak tanganku. Dan setelah ku lirik sesaat, sehelai uang kertas seribuan remuk dari dalam genggamannya.
“ Apa ini bu ???” Ku gambarkan wajah dengan nada penuh tanya. Seolah membalas tingkahku tadi, sekarang dia beralih tak acuh. Sambil menatap jauh ke depan dia menjawab:
“ Ambil saja. Ibu sedang ada rezeki ”
Aku tak bisa menerima ini. Untuk apa ? Atas dasar apa dia memberikannya. Aku kembalikan uang itu kepadanya. Tapi dia menepis tanganku dan mengulang pernyataannya serta menambahkan, “Jangan menolak rezeki, itu tidak baik ” Senyumnya begitu tulus. Bagai ada malaikat yang menjatuh-jatuhkan salju diatas kepalanya. Sejuk. Seluruh penampilannya berubah seperti Cinderella yang disulap menjadi putri.
Aku hanya termangu. Terpana. Terdiam. Logikaku tak dapat berpikir apa-apa. Runyam. Beragam pertanyaan dan berbagai pernyataan berloncat-loncatan dalam otak. Tapi, tak kuasa melompat keluar. Yang ada hanya kebisuan. Kebingungan memenuhi setiap jengkal ruang pikiran. Benar-benar tak dapat diterima. Apapun alasannya. Mana mungkin ini terjadi. Pasalnya, orang yang seharusnya aku bantu, malah berbalik memberi, dan yang aku sesali, tanpa alasan yang jelas. Walaupun dia ikhlas, bukankah uang itu lebih baik dia gunakan untuk keperluan lain. Mungkin itu akan sangat berguna, mengingat jerih payah yang dilakukannya untuk mendapatkan uang itu. Dia harus mengorbankan seluruh harga diri dan menampung sedikit kebaikan dari begitu banyaknya orang-orang yang lebih baik darinya. Sekali lagi, aku merasa tak pantas menerima uang itu. Tapi, apa yang dapat aku lakukan. Ironis.
Kali ini, aku trenyuh. Ku tatap wajahnya dalam-dalam dengan harapan dapat menemukan alasan nyata atas apa yang telah dia lakukan padaku. Tetap saja, dia tak pernah menoleh padaku lagi. Aku seperti ditinggalkan dalam dekapan kesendirian dan rasa bersalah. Seketika, algojo-algojo bertampang hitam seram mengelilingiku sambil mengacung-acungkan senjatanya. Mobil itu serasa sel penjara. Dan dengan tangan terborgol, aku meringkuk disudutnya. Sedang penumpang lainnya seperti tak pernah ada. Seolah tak pernah memperhatikan peristiwa yang baru saja terjadi.
Aku malu. Segan atas apa yang baru saja terjadi. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dada. Bergolak sangat dahsyat. Mengingat atas apa yang terjadi selama ini. Kita yang berkecukupan, tak sedikit yang memandang sebelah mata pada para pengais rezki itu dengan tatapan yang kadang sangat mengiris hati mereka. Tapi, apa yang terjadi sekarang, sebentar ini, dan aku sendiri yang mengalami, seorang ibu yang untuk makan saja kadang ada kadang tidak, mau berikhlas hati berbagi rezki dengan sesamanya bahkan denganku. Uang seribuan tentu saja merupakan nominal yang besar bagi mereka. Tragis benar nasib mereka yang berkecukupan namun hampa solidaritas. Aku merasa kecil selama ini. Kecil sekali.
Tiba-tiba dia melihat sesuatu dari arah balik kaca sebelah luar. Bergegas memanggil sang sopir untuk menghentikan mobil. Kepanikan terpancar dari wajah kumalnya, yang kini bersinar sebening embun dimataku. Dia terus saja menatap keluar seolah tak mau kehilangan sesuatu yang diluar itu. Kemudian dengan tergesa dia melompat turun dan membayar ongkosnya.
Sebelum mobil kembali berjalan, masih ku perhatikan dia. Sekilas, ku lihat ia berlari kecil mencari sesuatu tapi setelah itu menghilang dibalik keramaian, di balik puluhan mobil yang berlalu lalang disekitarnya. Dan dia hilang, tapi, kebaikannya akan tetap ada.
Dan aku, tingggallah sendiri. Masih mencari jawaban yang tak akan pernah ku temukan kepastiannnya. Kuhamparkan uang seribuan itu di telapak tangan dan meneliti kembali, jikalau ada pesan yang dia titipkan. Tapi, uang itu seperti uang seribuan lainnya. Tak ada coretan apa-apa.
Mobil melaju. Kencang menuju perhentian berikutnya. Panas mengajarkanku untuk bersabar akan semua derita yang ada. Dan ibu itu telah memberiku sesuatu yang tak akan pernah aku dapatkan dimanapun. Atau mungkin saja, dia adalah malaikat yang sengaja diutus untuk mengingatkannku ?
***
Esok;
“ Bu, Kemarin sewaktu akan pulang, Ari diberi uang oleh seorang pengemis”
“Lalu, waang terima uangnya ?”
“iya…”
“Buang saja uang itu. Mungkin saja itu ubek yang dikirimkan ke waang” Ibu marah, memaksa membuang itu.
“ …??? ”
»»  READMORE...

BIAR KUAJARI: BERMAIN KELERENG, AKUNTANSI, LOMBA LARI DAN MATI


Menggasaklah layang-layang.
Harap-harap cemas diatas langit, memandang ke bawah.
Tali terajunya diumpankan oleh orang tak waras akal

Sini, biar kuajarkan kau untuk menjentikkan kelereng.
Agar tak selalu dipecundangi

Apa kau bisa pelajaran akuntansi ?
Coba ku lihat rapor mu.
Hufff, pantas saja kau selalu digerogoti hutang lintah darat

Kau tahu cara lomba lari ?
Tidak juga ?
Tinggal membawa kaki mu bergerak saja kau tak bisa ?
Lalu, untuk apa kau ada ? Untuk apa kau berkuasa ? Mengurus dirimu saja, tak becus!

Sekarang, apa kau tahu caranya untuk mati ?
Biar ku ajarkan
Ambil pisau lalu goroklah lehermu
Atau tali gantungan mungkin akan menghantarmu pada izrail
Biar dia yang akan mengurus semuanya

Mungkin itu lebih baik
»»  READMORE...

LAKSANA ANGIN


Mereka membayu dari lembah…
Menelusuri setiap jengkal tanah yang tak terjamah
Menghampiri daun-daun yang digoyang pasrah
Kemudian berarak ke bukit dengan tarian yang indah..

Tahukah engkau makna angin?
Angin tanpa batas…
Menghinggapi rerimbunan
Menyapa burung-burung
Dan mengibaskan kegerahan mentari..

Aku ingin seperti angin
Yang dapat berjalan bersama air…
Bergejolak bersama api
Melangkahi bebatuan
Dan bercengkrama bersama kayu-kayu

Adakah hasratmu menjadinya?

Kemudian laksana angin
Kita akan berdiskusi dengan langit
Mencapai rembulan
Lalu merengkuh bintang
»»  READMORE...

Kamis, 03 Juni 2010

BUAT SAUDARAKU, PALESTINA


Kawan….
Bersabarlah….
Ku tahu, deritamu begitu dalam..
Menarik perasaan dari permukaan

Bertahanlah…
Karena sesungguhnya derita ini akan manis jua akhirnya..
Meskipun aku hanya sedikit tahu tentang pedihmu
Tapi, tak sedikit do’a yang dihaturkan untukmu
Dari saudara-saudara kita di penjuru dunia..

Saudaraku…
Tersenyumlah…
Allah bersama kalian...
Mengepakkan sayap-sayap lebar-Nya yang suci
Kemudian mendekapmu dalam surga-Nya


Berusahalah..
Hingga masa itu tiba…

Bertahanlah…
Hingga pertolongan Allah menjelma dari segala hamba

Ketahuilah….
Pembela kebenaran akan menang di akhir cerita…

Tersenyumlah….
Sesungguhnya syahidmu tak akan sia-sia
»»  READMORE...

BERSYUKUR

Adakalanya takdir tak dapat dirubah apalagi dipaksa (takdir mu'alaq). takdir tersebut sudah ada sejak sebelum kita dilahirkan. takdir yang menyangkut masalah hidup mati, rezeki dan jodoh. adakalanya kita ditakdirkan menjadi orang ayng biasa-biasa saja. bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. bukan berarti kita adalah orang yang kalah, orang yang tidak disayang Tuhan. Tapi karena itu adalah jatah jabatan yang diberikan Tuhan kepada kita selama di dunia. Tuhan memberikan berkahnya tanpa pintu dan bisa datang lewat arah mana saja.

bermula dari masalah takdir yang menyangkut rejeki, maka akan muncullah suatu kasta. Orang Atas-Orang Bawah. banyak orang orang kaya belum bisa disebut bahagia. orang rupawan belum layak disebut beruntung dan orang yang berstatus standar mungkin saja lebih baik. 

Lagipula, jika semua orang berada di 'atas', lalu siapa yang berada di bawah. Syukurilah apa yang ada, dengan tetap berikhtiar kepada Tuhan agar terus bertahan dan menjadi manusia yang lebih baik, meski harus dilalui dengan keberadaan kita yang 'dibawah'

»»  READMORE...

SEMPURNA


‘Tak ada manusia yang sempurna’ begitu kalimat yang sering terdengar. Sama artinya, ‘semua manusia tidak sempurna’. Tapi mengapa masih terasa asing. Seolah sederet kata penuh makna itu hanyalah omong kosong belaka. Sepertinya kata-kata itu menyembul dari ruang waktu yang tak jelas muasalnya. Kesempurnaan? bukankah Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Laqad khalaqnal Insaana Fii ahsani taqwiim. Kesempurnaan adalah milik semua orang. Bahkan untuk orang terbejat sekalipun. Setidaknya mereka telah sempurna menjadi orang bejat, dengan bertingkah seperti binatang. Kebejatannya yang membuatnya dikenal sebagai orang yang sempurna bejatnya. Apalagi orang yang kegiatan sehari-harinya hanya untuk mengingat Tuhannya. Tiada hari tanpa melafalkan puji-pujian. Mereka juga sempurna. Orang yang biasa-biasa saja juga sempurna. Orang yang tidak alim tidak pula bejat.  Sempurna karena kekonvensionalannya.
Tidak peduli, apa yang akan mereka dapatkan dengan kesempurnaan yang mereka miliki. Tapi sekurang-kurangnya, kita menyadari bahwa semua manusia itu sempurna. Tak ada kata untuk memojokkan diri sendiri dengan seenaknya berdalih bahwa no body is perfect. ‘tidak masalah, jika kita membuat kesalahan’. Pikiran-pikiran seperti itu akan mengkerdilkan komplektivitas anugrah Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Ketidaksempurnaan lahir dari ketidakpercayaan kepada diri sendiri. Kita menganggap bahwa diri kita tidak terlalu pintar, bahkan bodoh. Tidak mampu melakukan apa-apa. Kemudian membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain ‘diatas’ kita. Melihat keatas hanya akan membuat mata kejatuhan debu atau lebih naasnya, kotoran burung. Tapi, jangan pula kita terlalu sering melihat ke bawah, karena hal itu hanya akan mengunci pikiran dari dunia sekeliling. Coba bayangkan jika kita selalu berjalan menunduk, apa yang kita dapat dan lihat? melulu tanah? pikiran kita selalu dipenuhi dengan raut tanah, dan sampah yang terserak. Pandanglah ke depan dengan semangat kesempurnaan. Bahwa kita itu sempurna dan bisa disejajarkan dengan manusia sempurna lainnya. Bangkitkan kepercayaan diri yang terkubur dalam hati. Sekali rasa itu muncul, maka dampaknya akan terus menyinari sekeliling kita.
Kegagalan yang kita dapatkan ketika mencoba melakukan sesuatu, entah itu yang sekedar coba-coba atau telah dalam tahap yang sebenarnya, bukanlah diakibatkan karena kita tidak sempurna. Tapi karena kita belum mencoba dengan optimal. Coba kita ingat kembali tentang sejarah Alfa Edison dalam menemukan elemen yang cocok untuk mengalirkan arus listrik. Dia harus menerima kegagalan ribuan kali. Namun, apakah pernah kita dengar dia berargumen bahwa dia tidak sempurna. Bahwa percobaannya hanya kegiatan yang sia-sia. Karena menyadari bahwa dirinya ditakdirkan sebagai mahluk yang sempurna itulah, dia terus berusaha dan akhirnya, seperti yang kita rasakan saat ini. Satu contoh itu, seharusnya telah melecut kita untuk menghilangkan kata ‘tidak sempurna’ dalam kamus kehidupan kita.
Sekarang, mari kita berfikir. Mari kita analisis bersama, apa yang menyebabkan kita yakin bahwa tidak ada kata ‘tidak sempurna’. Mulai pahami diri kita sendiri. Apa pemikiran yang telah kita kunci selama ini terhadap diri kita. Renungkan kembali, mengapa kita sering gagal dan akhirnya menjebloskan diri ke jurang ‘ketidaksempurnaan’. Apakah kita telah berjuang cukup keras untuk melakukan sesuatu. Seberapa cepat kita menyerah. Jika kita bandingkan dengan manusia-manusia yang kita kenal sempurna, apakah kita telah sama berusaha seperti mereka.
 Tuhan juga mendukung ayat diatas dengan ayat lainnya bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang sampai dia sendiri yang mau merubahnya. Ada kesempatan untuk menjadi sempurna, seperti yang kita inginkan. Entah itu baik atau buruk. Kemudian, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Semua kegagalan yang kita dapatkan telah diperhitungkan dengan tepat oleh Tuhan bahwa kita mampu menghadapinya. Beberapa ayat diatas jika kita amati sekali lagi, nyata benar Tuhan mengatakan bahwa manusia itu sempurna. Tinggal bagaimana kita mencapai kesempurnaan itu. Apakah kita mau atau tidak.
»»  READMORE...