Searching.....
Sabtu, 12 Juni 2010
JALAN PULANG
Apa yang anda pikirkan tentang mati ? apakah rasa sakit menjelang nyawa lepas? Apakah amal yang entah cukup entah tidak? Apakah surga ? apakah panasnya neraka? Apakah kesepian dan gelap di liang sempit ?
Diatas kumpulan kapuk itu ragaku terbaring. Seperti tak bergerak. Hanya diam. Menanggung resah dan keluh kesah. Mengungkung sakit yang tak tertahan, tapi tak bisa dimuntahkan. Manusia-manusia sehat mengelilingiku, ngeri. Menatap tubuhku yang tinggal tulang dibalut plastik coklat. Kerut dan keriput. Mata cekung dan menggembung, sesekali berputar mengitari para ‘tamu’.
Mereka berbisik-bisik.
‘Kasihan ya…’ perempuan berbaju coklat panjang itu berkata pada teman sebeblahnya yang duduk tepat didepanku. Dia mengangguk.
Aku tak tahu apakah harus merasa iba hati atau malah mebesar-besarkan hati.
Wajahku berkerut menahan sakit. Desah nafas yang sekali-sekali keluar diiringi tusukan jarum disekitar ulu hati. Ingin rasanya semuanya cepat berakhir. Dan sepertinya begitu.
***
Aku merasakan jiwaku telah mendekati jembatan panjang kematian. Seseorang telah menunggu dan melambai-lambaikan tangannya dari ujung jembatan itu. Angin seolah tak bertiup seperti biasanya, menghembuskan nafas-nafas Malaikat Izrail yang berbau neraka. Aku merasakan ajal telah dekat. Sedekat kelingking dan jari telunjuk. Hanya satu gerakan lagi, maka ditutuplah buku perjalanan hidupku.
Telah ku hitung-hitung tiap tarikan nafas yang berhasil ku lakukan. Janggal, tak perlahan, tak satu-satu. Jantungku juga sama. Kali ini selalu berdegup kencang, tak tentu sebab. Ketika aku tertidur sejenak kemudian terganggu, maka bangkitlah ia, ketidaknormalan jantungku yang cenderung menyesak, membuatku sulit bernafas. Jika ku sandarkan punggung ini ke dinding, maka terasalah olehku gempa yang sekonyong-konyong mengejutkan diriku sendiri. Aku rasakan nafasku telah hampir mendekati masa akhir kerja. Dan jantungku yang serasa ditusuk ribuan jarum. Suatu penyiksaan yang tak pernah ku harapkan. Belum lagi, kepalaku yang tak henti-hentinya mendenyutkan nada lelah. Seperti dihimpit oleh beban yang tak tertanggung, tapi kadang-kadang ada juga normalnya. Hanya kadang-kadang. Badan yang selalu tak berdaya, seolah orang pemalas. Tapi ini bukanlah disengaja, tak akan mungkin aku akan mengecewakan orang lain selagi aku mampu. Isi perutku seperti dikoyak-koyak dengan benda tajam, menghamburkan darah yang tak terlihat tapi terasa sangat pedih.
Lengkap sudahlah rasanya. Bau-bau darah kematian tercium anyir menyengat oleh hidungku. Gema langkah kuda sang pencabut nyawa tak jarang terdengar dari pendengaranku. Bahkan aku memimpikannya, memimpikan alam kekalku, yang gelap, sempit, lembab dan menyesakkan, dikelilingi hewan-hewan yang seolah siap menggerayangi jasadku lalu melumatnya bulat-bulat. Tidakkah ini lebih meyakinkanku akan itu ?
Huff… andai aku mati nanti. Aku tak akan menyesal. Akan kuhadapi ajalku dengan senyum manis. Akan aku sambut kedatangan tamu tak di undang itu dengan senyum terkembang. Aku yakin, dia akan menarik roh ku dengan tenang, diiringi semilir lembut bayu menghembuskan aroma surga. Dia akan membimbingku melafazkan Laailaaha Illallah. Aku yakin itu.
Andai aku telah lelap untuk selamanya, aku ingin tak seorang pun yang meratap menangisiku. Aku mohon tak seorangpun. Aku tak inginkan tangisan dari ibuku yang telah sabar memahami aku, anaknya yang telah banyak menimbunkan dosa dunia akhirat kepadanya. Dari keluargaku. Dari teman-teman, yang kutahu sangat menyayangiku. Ikhlaskan aku. Doakan aku damai di alam sana, di alam yang hanya aku sendiri yang akan tahu. Aku juga mencintai kalian, andai kalian tahu.
Kadang aku bersyukur, jika aku mati lebih cepat dari semua orang yang aku cintai. Rasanya aku tak akan sanggup menghadapi kenyataan bila mendapati mereka meninggalkan aku. Aku bukanlah orang yang sabar untuk urusan itu.
***
Hentakan kereta kuda rombongan utusan Tuhan semakin dekat dan menggema, membawa malaikat pencabut nyawa dan diiringi para iblis dengan obornya yang menyala-nyala dan berbagai rupa godaan untuk menjerumuskan aku dalam kesesatan kematian, mati secara su’ul khotimah. Sirenenya menyiarkan kabar yang menyiksa. Seluruh organ tubuhku merinding. Menggigil menanti kepastian meregang nyawa. Nadiku bergetar, membekukan darah yang kebetulan lewat. Jantungku tak karuan, menghentakkan irama genderang perang menyebu akhirat. Lidahku gagu. Telinga mendenging. Otakku teringat dosa lama yang telah karatan dalam diri. Dosa yang menjadi tabir penghalang cahaya dalam barzakhku nanti. Apa jawaban yang harus ku berikan untuk pertanyaan yang akan diajukan Para Penanya nanti. Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu ? Apa agamamu ? dan berbagai pertanyaan pertanggungjawaban lainnya. Bagaimana aku bisa mengatasi semua itu, sedang ketika aku masih sehat saja tak sempat menyediakan tameng untuk semua serangan itu. Bahkan, hanya bercak hitam yang terus bertambah pekat. Aku teringat shalatku yang tak cukup lima dalam sehari, puasaku yang tak pernah sempurna, zakatku yang dipenuhi riya’ dan amal baiklku ketika masih bertulang kuat. Aku teringat hidupku yang sia-sia. mengapa tak menggunakan jatah umur dengan baik ?
Kematian tak mau menunggu barang sedetikpun. Saat ini dia akan datang, aku dapat merasakannya melewati kaki yang perlahan beku dan kaku. Dingin sekali tapi tanpa sebab. Hujan lebat mengguyur rohku. Sangat dingin. Nafasku seolah berasap karena gigil yang tak tertahankan. Badanku kemudian tak dapat digerakkan. Aku telah melihat bayangan-bayangan aneh, hanya aku. Orang-orang berjubah hitam mengulurkan payung hitamnya padaku sambil berkata ‘ mari ikut dengan kami’. Lalu, semakin banyak saja yang datang, orang berbaju hijau, putih, merah, biru dan tak jelas lagi. Semuanya merayuku dengan kalimat yang sama. ‘Mari ikut dengan kami’. Aku bingung!. Aku lelah. Hatiku dipenuhi dengan kepanikan dan kebimbangan yang berjejal-jejalan memenuhi setiap sudut yang tersedia. Lambat-lambat dingin itu menggerogoti kerongkonganku hingga tak dapat bicara. Dalam gelombang warna yang saling berdesak-desakkan mendekatiku, seseorang yang sangat kenal muncul begitu saja diatas kepalaku, ibu!. Dengan wajah sayunya, dia menawarkan payudaranya kepadaku sambil berkata;
‘ kau haus kan anakku ? ini air susuku untukmu dan ikutlah denganku mati dalam kesesatan.’ Dia tertawa sambil terus saja menyodorkan payudaranya padaku.
Aku dikerubungi perasaan yang menyiksa. Susah payah meneriaki kata-kata. Tak kuasa menyampaikan sepotong makna. Tapi, yang keluar hanya desahan ngilu. Sepasang mata yang membelalak tak sanggup menerjemahkan sebait pesan yang coba ku sampaikan.
Lalu lepaslah ia diiringi kesakitan yang tak terkira. Tak seorangpun yang tahu, hanya aku yang merasakan betapa pedihnya itu semua. Dingin merayap perlahan dari ujung kaki. Terus merambat ke lutut, perut, dada dan kerongkongan. Berakhir sudah. Kembalilah ia keasalnya, ke tempat seharusnya, dimana dia telah diadakan dan menunggu hingga datangnya waktu untuk berbangkit.
Dunia gelap. Memang selalu ini dunia telah gelap bagiku, sejak awal adaku. Dari yang gelap kembali ke yang gelap. Tak pernah berubah.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar